[CURHAT] AKU HANYALAH DINDING
Dulu, aku
selalu menganggapmu sebagai sebuah dinding. Bukan karena aku ingin. Tapi karena
mungkin saja kau juga hanya menganggapku sebagai dinding saja. Aku bukan
seseorang yang tidak kau kenal. Aku juga mengenalmu, sangat. Tapi, aku hanyalah
sebuah tembok yang hanya akan dilalui begitu saja ketika kau sedang berjalan.
Diabaikan, dan aku juga mengabaikan.
Bukan karena
aku tidak peduli. Bukan pula maksudku pura-pura tidak mengenalmu. Aku juga tau,
kau mungkin saja tidak bermaksud mengabaikanku. Tapi beginilah kita. Tidak ada
kata yang bisa terucap saat kita berjumpa. Canggung adalah rasa yang
menggambarkannya.
Ada satu hal
yang benar-benar aku hargai saat itu. Hari itu, kau berusaha menghancurkan
tembokku. Kau sudah berusaha menghancurkan tembokku yang kau buat sendiri. Kau
meruntuhkan dinding itu hanya dengan satu kata yang kau sebut. Kau memanggil
namaku, menyapaku dalam lorong gelap itu. Lalu dinding itu hancur lebur. Aku bukan lagi dinding yang hanya akan ada
disana yang biasanya kau abaikan begitu saja.
Setelah itu,
waktu dan jarak membekukan segalanya. Kembali. Aku menjadi dinding. Dinding yang aku buat sendiri. Waktu juga
tidak bisa membantuku meruntuhkan dindingmu yang sudah aku buat.
Aku rapuh. Aku
hanya bisa diam. Tembokmu masih utuh, dan aku masih belum beranjak. Sekali
lagi, ketika hari itu datang, kau menghancurkan dinding itu, dindingku. Tentu
dengan usahamu dan dengan senyummu itu.
Harusnnya, aku
segera menghancurkan juga dindingmu. Tapi aku tidak berusaha. Dua kali kau
berusaha menghancurkan dindingku yang kau buat sendiri, tapi aku masih belum
bisa menghancurkan dindingmu yang aku buat sendiri. Lalu aku bertanya pada
diriku sendiri, ‘Sanggupkah aku merobohkan dinding itu? Aku ingin sekali
melakukannya. Dinding itu adalah rasa dimana aku menganggap bahwa kau tidak
ada. Dinding itu adalah rasa diabaikan. Dan kita selama ini telah saling
mengabaikan.


0 komentar: