[RESENSI BUKU] SANTRI CENGKIR
DESKRIPSI BUKU
Karya : Abidah El Khalieqy
Penerbit : Ar-Ruzz Media ISBN : 978-602-313-053-5
Cetakan : 1
Terbit : Januari 2016
Bahasa : Indonesia
Halaman : 460 hal.
Dimensi : 14 x 21 cm
Jenis Buku : Novel
SINOPSIS
Masyarakat percaya bahwa dusun terpencil itu sebagai
tempat kerajaan jin, sampai di kemudian hari datang seorang kyai yang berhasil
menaklukannya. Namun masih ada sekelompok jin berkepala batu yang berjanji akan
tetap mengganggu.
Ketika
itu, pasukan tentara membabi-buta. Semua tokoh masyarakat yang berada d i
lingkungan DI/TII Ikut di ciduk, termasuk Kyai Salamun. Tanpa hukum dan pengadilan, ia di jebloskan di balik
jeruji Nusakambangan hingga pesantren sunyi panutan.
Di
tengah teror negeri yang menyelubungi kampung santri, sebagian besar perempuan
pilih mengungsi. Namun Bu Nyai tetap tabah dan berani menghadapi pentungan
maut. Sementara Slamet kecil terus mengaji di ruang tengah, di dekat lampu
senthir dari minyak tanah.
Dan ketika
jabatan telah memilihnya, sang tokoh bolak-balik di arena gelandangan raya.
Menjadi santri yang menapaki takdir Ilahiyah, menjalankan amanahdi sela nafas
jutaan jemaah. Bersama tasbih kokaknya, ia terus berputar dalam wirid yang
khusyuk. Menggetar, menyahdu, merasuk ke ulu-rindu.
ANALISA
1.
Tema
Novel ini merupakan kisah perjalanan hidup/biografi dari Slamet
Riyanto yang pernah menjadi Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umroh. Adapun tema
yang diambil adalah kisah inspiratif.
2.
Bahasa
Novel ini menggunakan bahasa yang ringan dan mudah dipahami,
sehingga pembaca tidak terlalu berpikir keras untuk memahami cerita yang
disampaikan.
3.
Ilustrasi
Tidak ada ilustrasi yang ditampilkan yang menggambarkan kisah di
dalam novel ini.
4.
Pesan yang Disampaikan
Banyak pesan yang disampaikan dalam novel ini, misalnya pada
halaman 35 yang dituliskan sebagai berikut:
“Berhijrahlah karena ilmu! Jangan hanya
karena sudah kelebihan uang, apalagi karena diledek kawan. Jangan pula berniat
haji tatkala sudah tua bangka, karena hanya akan menjadi kisah setor nyawa di
tanah orang. Selain merepotkan banyak orang. Sama seperti shalat, jangan
sekali-klai punya niat shalat nanti kala usia telah bau tanah, saat manula dan
tak menarik bagi dunia.”
Contoh lain, pesan yang disampaikan dalam novel ini ada pada
halaman 334, yang dituliskan sebagai berikut:
“Secara
kasat mata, kadang seseorang terlihat garang, menyeramkan, dan sulit diajak
berteman. Namun setelah didekati, ternyata hatinya sangat lembut. Jadi
penampilan seseorang tidak selamanya menunjukkan karakter yang sesungguhnya.”
5.
Karakter/Penokohan
Novel ini menceritakan kisah hidup seorang laki-laki bernama Slamet
Riyanto. Slamet Riyanto merupakan anak dari Kyai Salamun dan Djauhariyah yang
tinggal di sebuah desa bernama Cigaru. Slamet ini merupakan seorang ‘santri’
yang kenceng dalam berpikir, lurus dalam bertindak, walau semasa kecilnya
bandel minta ampun (halaman 12).
Selain itu, Slamet adalah orang yang dermawan seperti yang dikutip dari
halaman 12 di bawah ini:
“Slamet
terus naik mendaki tangga demi tangga yang berkelok-kelok. Merogoh riyal dari
koceknya tiap menjumpai pengemis yang mangkal di tiap tikungan undakan tangga.”
6.
Alur
Alur yang digunakan dalam
novel ini adalah alur maju-mundur. Diceritakan di awal bab ketika Slamet
Riyanto sudah menduduki jabatannya sebagai Dirjen Penyelenggaraan Haji dan
Umroh yang sering bolak-balik dari tanah suci ke Indonesia untuk mengantarkan
jemaah hajinya. Lalu pada kisah selanjutnya menceritakan Slamet Riyanto
kanak-kanak sampai dewasa.
7.
Kekurangan dan Kelebihan
a.
Kekurangan
Di dalam novel ini, terdapat kalimat-kalimat langsung maupun tidak
langsung yang merupakan transliterasi dari Bahasa Arab. Akan tetapi, transliterasi
tersebut tidak disertai keterangan terjemahannya, sehingga ketika pembaca yang
awam atau bahkan tidak tahu Bahasa Arab membacanya, pembaca tentu akan merasa
kebingungan. Selain itu, transliterasi tidak di cetak miring, sehingga ketika
membaca, kita akan sedikit kebingungan.
b.
Kelebihan
Di beberapa bagian cerita, di dalamnya di cantumkan terjemahan
ayat-ayat Al-quran sebagai penguat kisah, dan ini merupakan kelebihan
tersendiri untuk novel ini. Selain itu, pada tiap judul sub-bab, diberikan potongan/penggalan kalimat dari isinya,
sehingga pembaca akan mendapatkan gambaran cerita sebelum benar-benar membaca
isinya.
8.
Rekomendasi
Untuk pembaca yang menginginkan memperoleh bacaan ringan dan
inspiratif, mungkin bisa membaca buku “Santri Cengkir” ini.

0 komentar: