[FICTION] HER VERSION
Hujan yang mengguyur kota ini sejak semalam belum juga reda. Tidak
terlalu deras, namun juga tidak ringan. Beberapa orang mungkin memilih untuk
meringkuk hangat diantara selimut dan bantalnya di dalam kamar yang nyaman.
Tapi, baginya hujan ataupun badai tetap mengharuskannya datang ke kantor saat
itu juga. Paginya menjadi basah, dan dingin. Tapi menurutnya menyenangkan.
Ia bukan wartawan, bukan penulis,
bukan seorang fotografer. Ia hanyalah seorang yang bekerja sesuai kemauannya.
Kadang ketika mood menulis, ia akan menulis apapun yang ia mau. Ketika ia
sedang jalan-jalan, ia akan memanfaatkan kameranya mengabadikan momentnya. Ia
sering membuat blognya penuh dengan laporan perjalanannya itu. Tapi, itulah
istimewanya.
Dia tidak melakukan apa yang harus
dia lakukan. Ia hanya mengikuti kata hatinya. Ia hanya melakukan apa yang dia
inginkan. Tetapi, selalu membuat hasil kerjanya lebih bagus.
Kantornya tidak jauh dari
apartemennya. Ia hanya butuh berjalan kaki selama 15 menit untuk sampai. Tapi
hujan itu membuatnya membelokkan langkah. Menepi mencari kehangatan. Mencari
bau harum yang menguar dari sebuah coffee shop di seberang jalan.
Ia pesan secangkir capuchino
hangat dan sepotong red velvet. Berhenti sejenak tak masalah. Bosnya
tidak akan memarahinya, tidak pernah, dan tidak mungkin. Ia adalah aset
berharga perusahaan. Ia bisa masuk kantor kapan saja ia mau.
Atasannya, laki-laki bermata sipit
dan berbadan gembul dulu selalu mengejarnya. Bukan karena ia mencuri barang.
Tapi karena ia telah membuat banyak mata mencuri karyanya. Foto yang di
pamerkan di galeri karya seni kampusnya dulu laku keras. Banyak orang berebut
untuk mendapatkan foto itu. Dan sejak saat itu, bosnya itu ingin dia bekerja
dengannya.
Ketika tanda tangan kontrak, ia menginginkan dia akan bekerja
ketika moodnya sedang ada. Dan bosnya tidak mempermasalahkan hal itu. Sejak
hari itu, dia resmi bekerja disana.
Hujan masih belum berhenti. Ia
menatap luar. Ia sengaja memilih meja di pinggir, dekat kaca. Ia tarik lensa
kameranya dan membidik sesosok laki-laki yang tengah memegang payung, berdiri
di halte depan kafe.
Ia lihat hasil bidikannya. Tidak
mengecewakan. Mungkin ia bisa memasukkannya nanti di galerinya. Ia lihat sekali
lagi. Lebih jelas. Sedikit tidak percaya, ia mengangkat kepalanya mengamati
laki-laki yang berdiri di sana.
Orang itu...
Benar. Orang itu...
Ia berharap tidak berhalusinasi. Ia
melihatnya lagi. Benar. Ia memang tidak berhalusinasi. Buru-buru ia keluar dari
kafe. Berjalan mendekat ke arah halte. Mendekati laki-laki itu. Laki-laki
bermantel gelap dengan headset bertengger di lehernya. Laki-laki itu mungkin
masih belum sadar ia sudah di sampingnya.
Ia masih memandanginya. Mengamati
dengan mata berkaca-kaca. Punggung itu masih sama seperti punggung yang sering
ia lihat dulu. Dia semakin tinggi. Lebih berisi. Rambutnya tidak sepanjang
ingatannya dulu, lebih cepak. Dan dia terlihat lebih dewasa.
Perlahan ia berjalan mendekatinya.
Menepuk pundaknya pelan. Sebisa mungkin menahan air matanya. Menguatkan hatinya.
Ia tahu selama ini ia lemah. Ia hanya berusaha untuk terlihat baik-baik saja.
Laki-laki itu menoleh. Wajahnya
menampakkan ekspresi terkejut.
“Ran?”
Satu kata yang keluar dari mulut
laki-laki itu membuat bendungan yang ia tahan hancur. Keluar sudah lelehan-lelehan
dari matanya. Ia memeluknya. Memeluk laki-laki itu. Mengabaikan tetesan-tetesan
air yang sejak ia keluar dari kafe tadi membasahi mantelnya.
*
Mereka berdua duduk berhadapan di
dalam kafe. Tidak ada sepatah kata yang terucap. Ia teringat masa itu. Terakhir
kali mereka bertemu. Ia ingat senja di pantai kala itu. Ia ingat pernah berkata
pada laki-laki itu untuk menunggunya. Tapi mungkin saja, laki-laki itu lelah
menunggunya. Karena ia tak kunjung kembali pada laki-laki itu.
Ia pergi begitu saja. Ia tidak
mengucapkan selamat tinggal. Lalu, ia tidak memberi kabar. Ia tidak kembali
selama itu. Tidak pernah lagi bertemu. Tidak pernah saling menghubungi. Ia
menjaganya, menjaga jarak mereka.
Tapi... Kini, laki-laki itu ada di
depannya. Kopi di cangkirnya mengepulkan uap hangat. Ia seduh untuk
menghilangkan kecanggungan. Ia masih diam, dan laki-laki itu masih bersikap
sama. Diam juga.
“Bagaimana kabarmu?” Membuka
percakapan bukan hal yang sulit tentu saja. Tapi tidak berlaku jika ia
memulainya pada laki-laki itu. Ia adalah segala kecanggungannya. Dia tidak
pernah tidak canggung jika bersama laki-laki itu.
“Aku baik. Kau sendiri?”
“Aku juga baik.” Ia tersenyum.
Memandangnya lagi. Mereka saling memandang. “Kenapa kau ada di sini?”
“Aku menyusulmu.” Ia menyeruput
kopinya sebelum melanjutkan kalimatnya. “Aku datang ke rumahmu. Tapi ayahmu
mengatakan kau belum pernah pulang sejak saat itu.”
“Kau datang ke rumahku?”
“Ya.”
“ Untuk apa?”
“Aku masih menunggumu. Seperti yang
kau minta.”
Deg!
*

0 komentar: