Hujan yang mengguyur kota ini sejak semalam belum juga reda. Tidak terlalu deras, namun juga tidak ringan. Beberapa orang mungkin memi...

[FICTION] HER VERSION

10.59.00 Unknown 0 Comments



Hujan yang mengguyur kota ini sejak semalam belum juga reda. Tidak terlalu deras, namun juga tidak ringan. Beberapa orang mungkin memilih untuk meringkuk hangat diantara selimut dan bantalnya di dalam kamar yang nyaman. Tapi, baginya hujan ataupun badai tetap mengharuskannya datang ke kantor saat itu juga. Paginya menjadi basah, dan dingin. Tapi menurutnya menyenangkan.
Payung beningnya ada di tangan kanan. Tas selempang juga bertengger di pundak kanannya. Sedangkan tangan kirinya menjinjing sebuah tas yang berisi laptop. Di lehernya tergantung sebuah kamera yang biasanya ia gunakan untuk membidik gambar-gambar yang ia rasa bagus. Mantel tebal dan hangat cukup untuk membungkus tubuhnya. Kepalanya ditutupi hat merah, dan poninya ia tampakkan  begitu saja. Begitu juga rambut panjangnya yang tidak ia biarkan tergerai. Ia tampak  manis dengan ulasan make up-nya yang tipis.

Ia bukan wartawan, bukan penulis, bukan seorang fotografer. Ia hanyalah seorang yang bekerja sesuai kemauannya. Kadang ketika mood menulis, ia akan menulis apapun yang ia mau. Ketika ia sedang jalan-jalan, ia akan memanfaatkan kameranya mengabadikan momentnya. Ia sering membuat blognya penuh dengan laporan perjalanannya itu. Tapi, itulah istimewanya.
Dia tidak melakukan apa yang harus dia lakukan. Ia hanya mengikuti kata hatinya. Ia hanya melakukan apa yang dia inginkan. Tetapi, selalu membuat hasil kerjanya lebih bagus.
Kantornya tidak jauh dari apartemennya. Ia hanya butuh berjalan kaki selama 15 menit untuk sampai. Tapi hujan itu membuatnya membelokkan langkah. Menepi mencari kehangatan. Mencari bau harum yang menguar dari sebuah coffee shop di seberang jalan.
Ia pesan secangkir capuchino hangat dan sepotong red velvet. Berhenti sejenak tak masalah. Bosnya tidak akan memarahinya, tidak pernah, dan tidak mungkin. Ia adalah aset berharga perusahaan. Ia bisa masuk kantor kapan saja ia mau.
Atasannya, laki-laki bermata sipit dan berbadan gembul dulu selalu mengejarnya. Bukan karena ia mencuri barang. Tapi karena ia telah membuat banyak mata mencuri karyanya. Foto yang di pamerkan di galeri karya seni kampusnya dulu laku keras. Banyak orang berebut untuk mendapatkan foto itu. Dan sejak saat itu, bosnya itu ingin dia bekerja dengannya.
Ketika tanda tangan  kontrak, ia menginginkan dia akan bekerja ketika moodnya sedang ada. Dan bosnya tidak mempermasalahkan hal itu. Sejak hari itu, dia resmi bekerja disana.
Hujan masih belum berhenti. Ia menatap luar. Ia sengaja memilih meja di pinggir, dekat kaca. Ia tarik lensa kameranya dan membidik sesosok laki-laki yang tengah memegang payung, berdiri di halte depan kafe.
Ia lihat hasil bidikannya. Tidak mengecewakan. Mungkin ia bisa memasukkannya nanti di galerinya. Ia lihat sekali lagi. Lebih jelas. Sedikit tidak percaya, ia mengangkat kepalanya mengamati laki-laki yang berdiri di sana.
Orang itu...
Benar. Orang itu...
Ia berharap tidak berhalusinasi. Ia melihatnya lagi. Benar. Ia memang tidak berhalusinasi. Buru-buru ia keluar dari kafe. Berjalan mendekat ke arah halte. Mendekati laki-laki itu. Laki-laki bermantel gelap dengan headset bertengger di lehernya. Laki-laki itu mungkin masih belum sadar ia sudah di sampingnya.
Ia masih memandanginya. Mengamati dengan mata berkaca-kaca. Punggung itu masih sama seperti punggung yang sering ia lihat dulu. Dia semakin tinggi. Lebih berisi. Rambutnya tidak sepanjang ingatannya dulu, lebih cepak. Dan dia terlihat lebih dewasa.
Perlahan ia berjalan mendekatinya. Menepuk pundaknya pelan. Sebisa mungkin menahan air matanya. Menguatkan hatinya. Ia tahu selama ini ia lemah. Ia hanya berusaha untuk terlihat baik-baik saja.
Laki-laki itu menoleh. Wajahnya menampakkan ekspresi terkejut.
“Ran?”
Satu kata yang keluar dari mulut laki-laki itu membuat bendungan yang ia tahan hancur. Keluar sudah lelehan-lelehan dari matanya. Ia memeluknya. Memeluk laki-laki itu. Mengabaikan tetesan-tetesan air yang sejak ia keluar dari kafe tadi membasahi mantelnya.
*
Mereka berdua duduk berhadapan di dalam kafe. Tidak ada sepatah kata yang terucap. Ia teringat masa itu. Terakhir kali mereka bertemu. Ia ingat senja di pantai kala itu. Ia ingat pernah berkata pada laki-laki itu untuk menunggunya. Tapi mungkin saja, laki-laki itu lelah menunggunya. Karena ia tak kunjung kembali pada laki-laki itu.
Ia pergi begitu saja. Ia tidak mengucapkan selamat tinggal. Lalu, ia tidak memberi kabar. Ia tidak kembali selama itu. Tidak pernah lagi bertemu. Tidak pernah saling menghubungi. Ia menjaganya, menjaga jarak mereka.
Tapi... Kini, laki-laki itu ada di depannya. Kopi di cangkirnya mengepulkan uap hangat. Ia seduh untuk menghilangkan kecanggungan. Ia masih diam, dan laki-laki itu masih bersikap sama. Diam juga.
“Bagaimana kabarmu?” Membuka percakapan bukan hal yang sulit tentu saja. Tapi tidak berlaku jika ia memulainya pada laki-laki itu. Ia adalah segala kecanggungannya. Dia tidak pernah tidak canggung jika bersama laki-laki itu.
“Aku baik. Kau sendiri?”
“Aku juga baik.” Ia tersenyum. Memandangnya lagi. Mereka saling memandang. “Kenapa kau ada di sini?”
“Aku menyusulmu.” Ia menyeruput kopinya sebelum melanjutkan kalimatnya. “Aku datang ke rumahmu. Tapi ayahmu mengatakan kau belum pernah pulang sejak saat itu.”
“Kau datang ke rumahku?”
“Ya.”
“ Untuk apa?”
“Aku masih menunggumu. Seperti yang kau minta.”
Deg!
*

0 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.

You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "