[FICTION] HIS VERSION
Tidak apa-apa. Tidak masalah asal selembar kertas bertuliskan
sebuah alamat itu masih terbaca. Ia melanjutkan mencocokkan kembali alamat itu
dengan papan yang tertempel di dinding
luar pagar bangunan itu. Benar. Tidak salah lagi. Aku sudah
menemukannya. Begitu pikirnya.
Ia melongokkan sekali lagi
kepalanya. Apartemen itu tidak terlihat seperti apartemen mewah. Hanya terdiri
dari lima lantai dan sepertinya di setiap lantai hanya ada dua tempat tinggal
saja. Tetapi suasananya yang sejuk dan bersih itu yang membuat terlihat nyaman.
Di halaman depan disediakan dua
bangku di bawah pohon rindang. Di sebelahnya terdapat kolam yang tidak lebar. Tetapi
ikan yang ada di dalamnya lumayan banyak. Tanaman yang tumbuh disekitarnya juga
terlihat rapi. Sepertinya tukang kebunnya sering merawatnya.
Di depan gerbang tadi, ia bertemu
dengan petugas keamanan. Ramah dan menyenangkan. Selain itu, fasilitas juga
cukup memadahi. Apartemen yang mudah ditempuh. Hanya cukup berjalan lima menit
untuk sampai ke halte. Depan gerbang terdapat mini market yang cukup
menyediakan kebutuhan sehari-hari. Selain itu, tempat itu tidak jauh dari pusat
kota. Ia pun mungkin akan betah tinggal di tempat ini seperti gadis itu. Gadis
yang hampir lima tahun tak pernah ia temui.
Jika ia tidak nekat pergi ke rumah
gadis itu dan meminta alamatnya pada orang tua mereka, mungkin ia tidak akan
sampai di sini saat ini. Menemui orang tuanya bukan perkara yang besar. Ia
sudah mengenal mereka bertahun-tahun. Bahkan mereka sudah akrab dengannya. Tapi
mengetahui bahwa anak gadis mereka yang pergi bertahun-tahun tanpa mau
menemuinya—padahal berdasarkan cerita ayahnya, gadis itu tidak pulang sejak ia
pergi, hanya menelepon orang tuanya setidaknya seminggu dua kali—dan dia juga tidak
berniat untuk menemui teman-teman lamanya membuatnya merasa aneh. Apa yang
dihindarinya?
Petugas keamanan itu mengatakan,
gadis yang dicarinya baru saja keluar. Ah, ia terlmabat ternyata. Andai saja
pagi itu tidak hujan, maka dia tidak akan malas beranjak dari temmpat tidur
penginapannya.
Ia lalu mengucapkan terimakasih
sebelum akhirnya beranjak dari tempat itu. Ia harus kembali ke halte untuk
pergi ke penginapannya. Ia berencana akan kembali ke apartemen itu nanti sore.
Karena, petugas keamanan mengatakan bahwa gadis pasti itu sudah kembali sebelum
matahari terbenam.
Tapi pagi ini, ternyata masih hujan.
Ia memutuskan untuk meringkuk sebentar di dalam selimut. Ia tidak suka
basah-basahan. Tapi nyatanya hujan tidak juga berhenti. Jadi ia memaksakan diri
keluar. Nyatanya, ia malah terlambat.
Ia berdiri di depan halte. Lalu
mulai menyusun kalimat apa yang akan ia katakan nanti ketika bertemu dengan
gadis itu.
“Lama tidak bertemu, Ran,” katanya.
Ia menggeleng. “Aku sudah kesini tadi pagi, tapi aku tidak bertemu denganmu,”
lagi-lagi ia menggeleng setelah mengatakannya. Lalu, ia hanya menghela nafas.
Beberapa saat setelahnya, pundaknya
ditepuk seseorang. Ketika ia mengalihkan pandangan, mencari orang yang
melakukannya, ia malah menemukan wajah gadis itu. Wajah yang sudah lama tak ia
lihat.
“Ran?” Dan tanpa terduga, gadis itu
memeluknya.
*
Hidungnya memerah. Matanya juga.
Bekas air matanya masih trlihat meski gadis itu sudah berusaha menghapusnya.
Gadis itu mengajaknya masuk ke dalam coffeeshop di belakang halte. Pilihan yang
bagus, karena ia sudah merasa kedinginan sejak tadi.
Tapi mereka hanya duduk diam sejak
tadi. Tidak ada yang memulai percakapan. Kata-kata yang sudah ia siapkan tadi
akhirnya hanya beku di tenggorokkan. Ia merasakan kecanggungan.
“Bagaimana kabarmu?” akhirnya, gadis
itu yang memulainya. Menanyakan
kabarnya.
“Aku baik. Kau sendiri?” Ia
membalasnya. Sepertinya gadis itu sedang berusaha menghancurkan kecanggungan
mereka. Ia memandangnya—gadis itu. Dia masih sama. Hanya saja tampak lebih
kurus. Dan lebih cantik menurutnya.
“Aku juga baik.” Ia tersenyum. Mereka
berpandangan. Gadis itu bertanya lagi, “Kenapa kau ada di sini?”
“Aku menyusulmu.” Ia menyeruput
kopinya sebelum melanjutkan kalimatnya. Mungkin ia harus menceritakan asal mula
kedatangannya. “Aku datang ke rumahmu. Tapi ayahmu mengatakan kau belum pernah
pulang sejak saat itu.”
“Kau datang ke rumahku?”
“Ya.”
“ Untuk apa?”
“Aku masih menunggumu. Seperti yang
kau minta.”
Pupil mata gadis itu membesar.
Tampaknya ia sedikit terkejut.
*

0 komentar: