Hujan pagi itu membuat semuanya menjadi basah. Begitu juga dengan sepatu ketsnya. Hasilnya, tubuhnya menjadi menggigil. Tidak hanya it...

[FICTION] HIS VERSION

11.08.00 Unknown 0 Comments



Hujan pagi itu membuat semuanya menjadi basah. Begitu juga dengan sepatu ketsnya. Hasilnya, tubuhnya menjadi menggigil. Tidak hanya itu, kertas di tangannya yang lecek itu hampir saja tidak terbaca tulisannya jika saja ia tidak cekatan dalam menangkapnya ketika kertas itu jatuh. Ya, kertasnya akhirnya tidak jatuh, tapi payung di tangannya yang jatuh terlempar. Dan tubuhnya akhirnya basah. Ceroboh.

Tidak apa-apa. Tidak masalah asal selembar kertas bertuliskan sebuah alamat itu masih terbaca. Ia melanjutkan mencocokkan kembali alamat itu dengan papan yang tertempel di dinding  luar pagar bangunan itu. Benar. Tidak salah lagi. Aku sudah menemukannya. Begitu pikirnya.

Ia melongokkan sekali lagi kepalanya. Apartemen itu tidak terlihat seperti apartemen mewah. Hanya terdiri dari lima lantai dan sepertinya di setiap lantai hanya ada dua tempat tinggal saja. Tetapi suasananya yang sejuk dan bersih itu yang membuat terlihat nyaman.

Di halaman depan disediakan dua bangku di bawah pohon rindang. Di sebelahnya terdapat kolam yang tidak lebar. Tetapi ikan yang ada di dalamnya lumayan banyak. Tanaman yang tumbuh disekitarnya juga terlihat rapi. Sepertinya tukang kebunnya sering merawatnya.

Di depan gerbang tadi, ia bertemu dengan petugas keamanan. Ramah dan menyenangkan. Selain itu, fasilitas juga cukup memadahi. Apartemen yang mudah ditempuh. Hanya cukup berjalan lima menit untuk sampai ke halte. Depan gerbang terdapat mini market yang cukup menyediakan kebutuhan sehari-hari. Selain itu, tempat itu tidak jauh dari pusat kota. Ia pun mungkin akan betah tinggal di tempat ini seperti gadis itu. Gadis yang hampir lima tahun tak pernah ia temui.

Jika ia tidak nekat pergi ke rumah gadis itu dan meminta alamatnya pada orang tua mereka, mungkin ia tidak akan sampai di sini saat ini. Menemui orang tuanya bukan perkara yang besar. Ia sudah mengenal mereka bertahun-tahun. Bahkan mereka sudah akrab dengannya. Tapi mengetahui bahwa anak gadis mereka yang pergi bertahun-tahun tanpa mau menemuinya—padahal berdasarkan cerita ayahnya, gadis itu tidak pulang sejak ia pergi, hanya menelepon orang tuanya setidaknya seminggu dua kali—dan dia juga tidak berniat untuk menemui teman-teman lamanya membuatnya merasa aneh. Apa yang dihindarinya?

Petugas keamanan itu mengatakan, gadis yang dicarinya baru saja keluar. Ah, ia terlmabat ternyata. Andai saja pagi itu tidak hujan, maka dia tidak akan malas beranjak dari temmpat tidur penginapannya.

Ia lalu mengucapkan terimakasih sebelum akhirnya beranjak dari tempat itu. Ia harus kembali ke halte untuk pergi ke penginapannya. Ia berencana akan kembali ke apartemen itu nanti sore. Karena, petugas keamanan mengatakan bahwa gadis pasti itu sudah kembali sebelum matahari terbenam.
Ia baru sampai tempat ini kemarin sore. Tapi karena tubuhnya lelah, ia langsung ambruk dan tertidur. Ia baru bangun ketika malam sudah datang. Ketika ia melirik layar ponselnya, ternyata ia sudah tetidur tiga jam. Dan sejak saat itu, dia tidak bisa tidur lagi. Ia memandang rintik hujan yang turun di luar malam itu. Juga melamunkan apa yang akan terjadi nanti. Ia merasa kuatir jika ia tidak bisa menemukan gadis itu. Ia takut jika gadis itu akan marah padanya. Ia takut jika gadis itu akan menolak kedatangannya.

Tapi pagi ini, ternyata masih hujan. Ia memutuskan untuk meringkuk sebentar di dalam selimut. Ia tidak suka basah-basahan. Tapi nyatanya hujan tidak juga berhenti. Jadi ia memaksakan diri keluar. Nyatanya, ia malah terlambat.

Ia berdiri di depan halte. Lalu mulai menyusun kalimat apa yang akan ia katakan nanti ketika bertemu dengan gadis itu.

“Lama tidak bertemu, Ran,” katanya. Ia menggeleng. “Aku sudah kesini tadi pagi, tapi aku tidak bertemu denganmu,” lagi-lagi ia menggeleng setelah mengatakannya. Lalu, ia hanya menghela nafas.

Beberapa saat setelahnya, pundaknya ditepuk seseorang. Ketika ia mengalihkan pandangan, mencari orang yang melakukannya, ia malah menemukan wajah gadis itu. Wajah yang sudah lama tak ia lihat.

“Ran?” Dan tanpa terduga, gadis itu memeluknya.

*

Hidungnya memerah. Matanya juga. Bekas air matanya masih trlihat meski gadis itu sudah berusaha menghapusnya. Gadis itu mengajaknya masuk ke dalam coffeeshop di belakang halte. Pilihan yang bagus, karena ia sudah merasa kedinginan sejak tadi.

Tapi mereka hanya duduk diam sejak tadi. Tidak ada yang memulai percakapan. Kata-kata yang sudah ia siapkan tadi akhirnya hanya beku di tenggorokkan. Ia merasakan kecanggungan.

“Bagaimana kabarmu?” akhirnya, gadis itu yang memulainya.  Menanyakan kabarnya.

“Aku baik. Kau sendiri?” Ia membalasnya. Sepertinya gadis itu sedang berusaha menghancurkan kecanggungan mereka. Ia memandangnya—gadis itu. Dia masih sama. Hanya saja tampak lebih kurus. Dan lebih cantik menurutnya.

“Aku juga baik.” Ia tersenyum. Mereka berpandangan. Gadis itu bertanya lagi, “Kenapa kau ada di sini?”

“Aku menyusulmu.” Ia menyeruput kopinya sebelum melanjutkan kalimatnya. Mungkin ia harus menceritakan asal mula kedatangannya. “Aku datang ke rumahmu. Tapi ayahmu mengatakan kau belum pernah pulang sejak saat itu.”

“Kau datang ke rumahku?”

“Ya.”

“ Untuk apa?”

“Aku masih menunggumu. Seperti yang kau minta.”

Pupil mata gadis itu membesar. Tampaknya ia sedikit terkejut.

*

0 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.

You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "